Phubbing: A Word You May Never Knew Before (An Introduction)

Sebelum memulai, let me ask you questions.
1. Apakah kamu pernah ikut dalam sebuah reuni SMA?
2. Adakah satu momen dimana kamu bingung harus apa (mati gaya) karena semua sedang memerhatikan smartphone mereka?
3. Apakah kemudian kamu memutuskan untuk ikut memperhatikan smartphone milikmu?  *yaa... walau yang kamu buka hanya: home - menu - gallery - instagram - home - menu.

Kalau anda menjawab "ya" maka SELAMAT anda mengalami perilaku Phubbing!
Tentunya, kamu sudah paham sekarang apa itu Phubbing bukan?


Gambar 1. Perilaku Phubbing dalam Keluarga (Dok. Faiz Sujudi)

Phubbing didefinisikan sebagai 1) perilaku atau kebiasaan mengabaikan seseorang untuk memerhatikan perangkat ponsel seseorang atau perangkat mobile lainnya.  2) Salah satu gejala dari peningkatan ketergantungan kita pada ponsel dan internet. (Oxford Dictionaries). 

Phubbing (Phone Snubbing)  adalah sebuah kata yang telah masuk di Oxford English Dictionary pada awal tahun 2016. Pada awalnya, Phubbing adalah kata yang dikampanyekan oleh Macquire Dictionary sejak tahun 2012. Kamu bisa lihat video di bawah ini, video yang menggambarkan bagaimana sebuah kata Phubbing 'lahir' didunia. Video ini menceritakan petualangan yang dimulai pukul 4.22 pm pada 22 Mei 2012 di Universitas Sydney, ketika para tim ahli bahasa dikumpulkan oleh McCan dan Macquire Dictionary untuk membahas fenomena yang sekarang kita sebut Phubbing. 




Apa yang menyebabkan kita melakukan Phubbing?
Setidaknya terdapat empat faktor yang menyebabkan kita melakukan Phubbing. Antara lain:

Kecanduan smartphone

Simon Sinek dalam sebuah interview di MTV News Australia , mengungkapkan bahwa ketika kita menggunakan media sosial dan smartphone akan mengeluarkan zat kimia dalam tubuh kita, yang disebut dengan Dopamine. Zat tersebut yang membuat kita merasa hebat dan bangga ketika banyak mendapatkan "likes" di Facebook, Twitter, atau Instagram. Zat itu pula yang membuat kita excited mendapatkan SMS atau notifikasi dari seseorang di Facebook Messenger, Whatsapp, Line, dan lain lain. Dopamine adalah zat kimia yang sama, apabila, kita sedang merokok, minum-minuman keras, dengan kata lain, ini adalah zat yang membuat kita menjadi Highly Addictive (Adiktif/kecanduan).

Lebih lanjut, kecanduan smartphone ini menyebabkan manusianya (a.k.a pengguna) menjadi lebih peka dan sensitif dengan apa yang terjadi pada lingkungan virtual mereka, pada apa yang ada di perangkat mereka, bukan kepada lingkungan sosial/masyarakat (Sujudi, 2016).

Kepentingan pribadi

Well, semua orang memiliki kepentingan pribadi. Entah itu kepentingan sosia atau pekerjaan. Adalah hal yang dapat dimaklumi untuk melakukan semua kepentingan pribadi kita, namun, jangan sampai seseorang yang ada di hadapan kita menjadi terabaikan.

Tidak adanya topik untuk dibahas

Pernah nggak ngerasain momen dimana lagi makan malam bersama keluarga, tidak ada topik menarik untuk dibahas, kemudian semua hanya fokus dengan smartphone? Kalau pernah, kemungkinan keluarga kamu adalah keluarga dengan dimensi tradisionalisme struktural. Dimensi ini dijelaskan oleh Fitzpatrick sebagai dimensi dimana orang tua memiliki hak secara penuh atas segala hal dan anak harus memiliki sikap kepatuhan yang tinggi terhadap orang tua (Fitzpatrick & Richie, 1994).

Tapi yaa.... kalau kamu merasakan itu pada temen sepergaulan kamu, mungkin kalian hanya 'kurang piknik bareng' atau..... memang sudah tidak cocok.

Ketidakpedulian dari figur otoritas

Kalau..... kalau... kalau ada orang tua, aktif main Facebook all the time, Whatsapp, even maybe Twitter and Instagram, kira-kira anaknya akan aktif juga gak main smartphone? Don't ask me back. I'm asking you.


 
Pelajari lebih lengkap mengenai Phubbing melalui beberapa refensi di bawah ini:
Phubbing: A Word Is Born 
My life has become a major distraction from my cell phone: Partner phubbing and relationship satisfaction among romantic partners
Phubbing dalam Komunikasi Keluarga

Comments

Popular Posts

Today's Picture

Today's Picture
Waiting for Pizza