Happy New Year: A Presence Audit Time
Happy New Year 2018! Ada resolusi apa di tahun baru ini? Ataaaaau apa saja resolusi diri yang sudah tercapai? Belum ada? It's Ok..... Evaluasi nilai diri memang hal yang sulit.
Ada yang pernah mudah melakukannya? Only Yogi Bear dan Larry King yang bisa, aku rasa. Kita sebagai manusia cenderung mudah sekali untuk judging atau menilai orang lain... Terlalu mudah koman-komen mengenai karakter dan kinerja orang lain. Wow fakta.
"New Year, New Me."
Begitu kata orang-orang jaman sekarang. Kalau aku sendiri dibandingkan dengan membuat branding atau sikap baru, lebih baik evaluasi bagaimana diri ini di mata orang. Kan kadang aku merasa apa yang aku lakukan adalah baik, namun bagi orang lain belum tentu.
Tapi pertanyaan kemudian muncul, "Bagaimana cara aku tau imej aku di mata orang lain? Sekedar dengan tanya pendapat kah? Pertanyaan apa tapi yang kemudian harus dilontarkan?"
Untungnya dunia zaman now, yang selalu diskeptiskan para baby boomer, memiliki jawabannya. Aku menemukan sebuah artikel di HBR Blog yang menawarkan empat langkah sederhana untuk mengetahui gambaran akurat mengenai diri kita. Hal tersebut dinamakan dengan Presence Audit.
Dalam melakukan Presence Audit, dilarang baper!
Untungnya dunia zaman now, yang selalu diskeptiskan para baby boomer, memiliki jawabannya. Aku menemukan sebuah artikel di HBR Blog yang menawarkan empat langkah sederhana untuk mengetahui gambaran akurat mengenai diri kita. Hal tersebut dinamakan dengan Presence Audit.
Dalam melakukan Presence Audit, dilarang baper!
Here's the quick brief:
Pilihlah lima orang yang sering bersinggungan dengan diri anda. Lebih baik lagi jika anda memilih kolega atau teman yang mengenal anda lebih dari satu aspek.
2. Ajak untuk bertemu secara langsung
Setelah memilih kolega atau teman, ajak lah mereka satu per satu untuk bertemu secara langsung. Katakan padanya bahwa kita akan merahasiakan segala omongan atau opini yang keluar dari dirinya. Hal ini tentunya untuk meningkatkan tingkat kejujuran teman atau kolega yang kita tanya.
3. Tanya dua pertanyaan
Tanya dua pertanyaan pamungkas ini:
"Apa sih persepsi umum kalian tentang aku?"
"Apa yang dapat aku lakukan, menurut kalian, agar aku bisa mencapai kesuksesan?"
Kalau ada yang menjawab dan menjabarkan keterampilan anda, bukannya menjawab mengenai impresi atau persepsi, maka katakanlah: "Terima kasih atas feedback mengenai keterampilan aku sehari-hari. Bagaimana kalau persepsi umum kamu melihat aku? Sebagai pemimpin/kolega/teman?"
4. Kelola reaksi anda
Salah satu hal yang paling penting adalah mengelola reaksi anda. Teman atau kolega yang sedang membeberkan persepsi mereka mengenai anda akan menahan opini tersebut jika anda memasang muka atau reaksi seperti: mencoba menjelaskan alasan, defensive, atau kekecewaan. Kelola reaksi anda dan jangan tergoda dengan emosi sesaat. Minta mereka menjelaskan detail atau contoh perilaku agar anda semakin mengerti dengan opini mereka.
Well, apakah diskusi ini akan menjadi diskusi yang menyenangkan? Mungkin tidak!
Tapi, dampak dan manfaat yang dirasakan seringkali terasa. Seringkali akan ada kalimat yang terlintas "Kenapa nggak ngomong dari dulu sih? Kalau tau begitu aku bisa ubah dari dulu!".
Pelajari lebih lanjut mengenai Presence Audit melalui:


Comments
Post a Comment