Preventing Suicide: Do's for Media




Tentu kita masih ingat video viral bunuh diri yang terjadi pada dua orang wanita di Bandung, Juli 2017. Kedua wanita tersebut terjun bunuh diri mengakhiri hidupnya dari lantai 5A Apartemen Gateway, Ahmad Yani, Bandung. Dilansir melalui Tribunnews.com, diketahui bahwa kedua wanita ini adalah kakak-beradik yang berasal dari Makassar Sulawesi Selatan. Motif dari bunuh diri itu pun diduga karena gangguan psikis. Lebih lanjut, dilansir dari Grid.id, Depresi dan gangguan psikis tersebut dipicu karena ibu kandung mereka meninggal dunia pada tahun 2006, sejak saat itulah gangguan psikis dan depresi melekat pada kakak-beradik tersebut. Kejadian ini menuai berbagai komentar dari warganet yang melihat vide tersebut melalui media jejaring Youtube. Sayangnya, banyak sekali komentar yang justru memojokkan kedua wanita tersebut.

Sebelumnya, viral pula bunuh diri yang dilakukan oleh Indra di kediamannya, daerah Jagakarta, Jakarta Selatan. Aksi gantung diri yang dilakukan disiarkan melalui fitur Facebook Live Indra, sehingga teman dan koleganya yang berteman di Facebook melihat proses tersebut secara real-time. Sebelum melakukan aksinya, Indra mengungkapkan permasalahan keluarganya yang mendorong dia melakukan aksi bunuh diri.
 
“Gue cinta mati sama dia, yaa… entah kenapa mungkin bukan jodohnya sekarang. Sekarang dia (istrinya) pergi sama anak anak, ninggalin gue. Ya…. Kita lliat aja lah apa gue berani ngelakuinnya (bunuh diri)."
 
Sebelum gantung diri, Indra pun mengucapkan kalimat perpisahan dan melambaikan tangannya pada kamera. Kejadian naas ini menerima banyak komentar dari warganet yang kebetulan menonton live streaming tersebut. Yang memprihatinkan adalah banyak terdapat komentar yang tidak percaya dengan aksi nekat Indra dan menilai aksi tersebut hanya bohong untuk mendapat perhatian semata.
 
“Bohong bgt, posisi pintu dan fentilasi masih lebih tinggi dari badan si bapak... itu mah ngelongsor dilantai kelessss"

Dari dua kejadian di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa banyak sekali pihak yang tidak memahami dan menganggap remeh perilaku depresi serta bunuh diri. World Health Organization (WHO) sendiri mengatakan bahwa bunuh diri adalah permasalahan serius di dunia yang membutuhkan perhatian dan kesadaran seluruh lapisan masyarakat, tetapi, dalam mencegah bunuh diri bukanlah hal yang mudah. Terdapat lebih dari 800,000 aksi bunuh diri per tahun di dunia dan terdapat kurang lebih enam orang yang terkena dampak dari setiap aksi bunuh diri.




Faktor yang memengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri sangatlah kompleks dan tidak mudah untuk dimengerti. Tetapi terdapat banyak bukti yang menyatakan bahwa media memiliki peran dalam, entah, meningkatkan atau menekan pencegahan bunuh diri. 

Di satu sisi, pemberitaan media mengenai bunuh diri dapat meningkatkan peluang bunuh diri bagi orang yang melihat media tersebut, terlebih apabila orang tersebut memiliki psikis yang rentan dan pemberitaan media tentang bunuh diri dilakukan dalam intensitas yang tinggi, sensasional, dan dibesar-besarkan. Efek media dalam meningkatkan resiko angka bunuh diri disebut dengan “Werther Effect”. Werther sendiri adalah nama dari seorang tokoh dalam novel terkenal The Sorrows of Young Werther, yang melakukan bunuh diri karena kehilangan kekasihnya. 

Namun, di sisi lain, pemberitaan oleh media mengenai bunuh diri dan kesehatan jiwa dapat membantu masyarakan untuk lebih sadar dan memahami apa itu bunuh diri, apa faktor yang memengaruhi dan bagaimana pencegahannya. Dengan pemberitaan yang bertanggung jawab, seseorang dengan peluang bunuh diri dapat mengubah pemikirannya dan melakukan alternatif lain serta dapat menginspirasi untuk lebih terbuka dan melakukan dialog dengan orang terdekat. Efek media dalam menekan peluang bunuh diri ini disebut dengan Protective Effect, atau lebih dikenal dengan “Papageno Effect”. Papageno adalah karakter  dalam Opera Mozart yang berjudul The Magic Flute. Papageno adalah karakter yang ingin melakukan aksi bunuh diri karena kehilangan kekasihnya, namun  terhenti karena mendapatkan terpaan informasi dari media. Oleh karena itu, berikut adalah hal yang harus dilakukan  oleh media dalam rangka melakukan pencegahan bunuh diri.

Hal yang harus dilakukan

Memberikan informasi akurat mengenai dimana seseorang harus meminta bantuan

Informasi mengenai bantuan dukungan harus selalu disertakan di setiap akhir pemberitaan. Informasi tersebut harus akurat, yang berarti bantuan dapat dipercaya dan bila memungkinkan bersedia untuk membantu sepanjang 24 jam.

Mengedukasi masyarakat mengenai fakta dan pencegahan bunuh diri, tanpa memberikan mitos-mitos yang berkembang.

Banyak sekali mitos dan kesalahpahaman mengenai bunuh diri. Jangan pernah berikan informasi yang menyesatkan dan tidak akurat. Dahulukan fakta dan cara mencegah bunuh diri dalam setiap pemberitaan.


Memberitakan bagaimana menghadapi pemikiran untuk bunuh diri dan bagaimana cara mendapatkan bantuan. 

Seseorang dapat terinspirasi dengan berbagai cara dan cerita yang disuguhkan oleh media. Memberikan cara tentang bagaimana menghadapi pemikiran untuk bunuh diri dan menyertakan cerita dari orang yang selamat dari bunuh diri dapat menekan resiko terjadinya bunuh diri.

Melakukan peringatan secara terus menerus ketika memberitakan selebriti yang bunuh diri 

Selebriti atau figur masyarakat dinilai sebagai bahan media dan memiliki nilai berita yang tinggi. Nilai berita yang tinggi berarti akan dilihat dan diikuti oleh banyak orang. Hal tersebut akan berujung pada rating media pada pemberitaan tersebut ikut naik. Adalah hal yang bijak dan wajib bagi media untuk memberikan peringatan dan edukasi secara terus menerus dalam memberitakan kejadian bunuh diri pada figur masyarakat atau selebriti.

Hati-hati dan bertanggung jawab ketika mewawancara keluarga yang berduka 

Keluarga yang berduka memang dapat menjadi sumber dari bahan pemberitaan. Media dapat melakukan wawancara dan mendapatkan berbagai cerita serta sudut pandang. Namun, penting untuk digarisbawahi, bahwa jangan pernah memberikan pertanyaan yang bodoh dan mengganggu privasi dan kenyamanan.

Sadari bahwa rekan media pun dapat terpengaruh dari cerita mengenai bunuh diri 

Rekan media yang meliput dan mencari bahan mengenai bunuh diri adalah manusia juga. Mereka dapat terpengaruh dan memiliki kemungkinan untuk melakukan bunuh diri pula. Rekan media tidak boleh ragu untuk segera meminta bantuan apabila merasa dirinya terpengaruh secara negatif.

Pelajari dan pahami lebih lanjut mengenai bagaimana media harus memberitakan kejadian bunuh diri melalui:

World Health Organization (WHO). Preventing Suicide: A Resource for Media Proffesionals (Update 2017). Dapat diakses melalui http://who.int

Comments

Popular Posts

Today's Picture

Today's Picture
Waiting for Pizza