Preventing Suicide: Do's for Media
Sebelumnya, viral pula bunuh diri yang dilakukan oleh Indra di kediamannya, daerah Jagakarta, Jakarta Selatan. Aksi gantung diri yang dilakukan disiarkan melalui fitur Facebook Live Indra, sehingga teman dan koleganya yang berteman di Facebook melihat proses tersebut secara real-time. Sebelum melakukan aksinya, Indra mengungkapkan permasalahan keluarganya yang mendorong dia melakukan aksi bunuh diri.
“Gue cinta mati sama dia,
yaa… entah kenapa mungkin bukan jodohnya sekarang. Sekarang dia (istrinya) pergi
sama anak anak, ninggalin gue. Ya…. Kita lliat aja lah apa gue berani
ngelakuinnya (bunuh diri)."
Sebelum gantung diri, Indra pun mengucapkan kalimat perpisahan dan melambaikan tangannya pada kamera. Kejadian naas ini menerima banyak komentar dari warganet yang kebetulan menonton live streaming tersebut. Yang memprihatinkan adalah banyak terdapat komentar yang tidak percaya dengan aksi nekat Indra dan menilai aksi tersebut hanya bohong untuk mendapat perhatian semata.
“Bohong bgt, posisi pintu
dan fentilasi masih lebih tinggi dari badan si bapak... itu mah ngelongsor
dilantai kelessss"
Dari dua kejadian di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa banyak sekali pihak yang tidak memahami dan menganggap remeh perilaku depresi serta bunuh diri. World Health Organization (WHO) sendiri mengatakan bahwa bunuh diri adalah permasalahan serius di dunia yang membutuhkan perhatian dan kesadaran seluruh lapisan masyarakat, tetapi, dalam mencegah bunuh diri bukanlah hal yang mudah. Terdapat lebih dari 800,000 aksi bunuh diri per tahun di dunia dan terdapat kurang lebih enam orang yang terkena dampak dari setiap aksi bunuh diri.
Faktor yang memengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri sangatlah kompleks dan tidak mudah untuk dimengerti. Tetapi terdapat banyak bukti yang menyatakan bahwa media memiliki peran dalam, entah, meningkatkan atau menekan pencegahan bunuh diri.
Di satu sisi, pemberitaan media mengenai bunuh diri dapat meningkatkan peluang bunuh diri bagi orang yang melihat media tersebut, terlebih apabila orang tersebut memiliki psikis yang rentan dan pemberitaan media tentang bunuh diri dilakukan dalam intensitas yang tinggi, sensasional, dan dibesar-besarkan. Efek media dalam meningkatkan resiko angka bunuh diri disebut dengan “Werther Effect”. Werther sendiri adalah nama dari seorang tokoh dalam novel terkenal The Sorrows of Young Werther, yang melakukan bunuh diri karena kehilangan kekasihnya.
Namun, di sisi lain, pemberitaan oleh media mengenai bunuh diri dan kesehatan jiwa dapat membantu masyarakan untuk lebih sadar dan memahami apa itu bunuh diri, apa faktor yang memengaruhi dan bagaimana pencegahannya. Dengan pemberitaan yang bertanggung jawab, seseorang dengan peluang bunuh diri dapat mengubah pemikirannya dan melakukan alternatif lain serta dapat menginspirasi untuk lebih terbuka dan melakukan dialog dengan orang terdekat. Efek media dalam menekan peluang bunuh diri ini disebut dengan Protective Effect, atau lebih dikenal dengan “Papageno Effect”. Papageno adalah karakter dalam Opera Mozart yang berjudul The Magic Flute. Papageno adalah karakter yang ingin melakukan aksi bunuh diri karena kehilangan kekasihnya, namun terhenti karena mendapatkan terpaan informasi dari media. Oleh karena itu, berikut adalah hal yang harus dilakukan oleh media dalam rangka melakukan pencegahan bunuh diri.
Hal yang harus dilakukan
Memberikan informasi akurat mengenai dimana seseorang
harus meminta bantuan
Informasi mengenai bantuan dukungan harus selalu disertakan di setiap akhir pemberitaan. Informasi tersebut harus akurat, yang berarti bantuan dapat dipercaya dan bila memungkinkan bersedia untuk membantu sepanjang 24 jam.
Mengedukasi masyarakat mengenai fakta dan pencegahan bunuh
diri, tanpa memberikan mitos-mitos yang berkembang.
Banyak sekali mitos dan kesalahpahaman mengenai bunuh diri. Jangan pernah berikan informasi yang menyesatkan dan tidak akurat. Dahulukan fakta dan cara mencegah bunuh diri dalam setiap pemberitaan.
Memberitakan bagaimana menghadapi pemikiran untuk bunuh
diri dan bagaimana cara mendapatkan bantuan.
Seseorang dapat
terinspirasi dengan berbagai cara dan cerita yang disuguhkan oleh media. Memberikan
cara tentang bagaimana menghadapi pemikiran untuk bunuh diri dan menyertakan
cerita dari orang yang selamat dari bunuh diri dapat menekan resiko terjadinya
bunuh diri.
Melakukan peringatan secara terus menerus ketika
memberitakan selebriti yang bunuh diri
Selebriti
atau figur masyarakat dinilai sebagai bahan media dan memiliki nilai berita
yang tinggi. Nilai berita yang tinggi berarti akan dilihat dan diikuti oleh
banyak orang. Hal tersebut akan berujung pada rating media pada pemberitaan tersebut ikut naik. Adalah hal yang
bijak dan wajib bagi media untuk memberikan peringatan dan edukasi secara terus
menerus dalam memberitakan kejadian bunuh diri pada figur masyarakat atau
selebriti.
Hati-hati dan bertanggung jawab ketika mewawancara
keluarga yang berduka
Keluarga
yang berduka memang dapat menjadi sumber dari bahan pemberitaan. Media dapat
melakukan wawancara dan mendapatkan berbagai cerita serta sudut pandang. Namun,
penting untuk digarisbawahi, bahwa jangan pernah memberikan pertanyaan yang bodoh
dan mengganggu privasi dan kenyamanan.
Sadari bahwa rekan media pun dapat terpengaruh dari
cerita mengenai bunuh diri
Rekan media
yang meliput dan mencari bahan mengenai bunuh diri adalah manusia juga. Mereka
dapat terpengaruh dan memiliki kemungkinan untuk melakukan bunuh diri pula. Rekan
media tidak boleh ragu untuk segera meminta bantuan apabila merasa dirinya
terpengaruh secara negatif.
Pelajari dan pahami lebih lanjut mengenai bagaimana media harus memberitakan
kejadian bunuh diri melalui:
World Health Organization (WHO). Preventing
Suicide: A Resource for Media Proffesionals (Update 2017). Dapat diakses
melalui http://who.int


Comments
Post a Comment